Ads 468x60px

Labels

Selasa, 22 Januari 2013

Geografi Pariwisata


A.    Pengertian Pariwisata Menurut Para Ahli
Secara etimologis pariwisata berasal dari bahasa sansekerta, yang terdiri dari dua suku kata Pari yang berarti banyak, berkali-kali, berputar-putar, lengkap. Dan kata wisata yang berarti perjalanan, bepergian yang bersinonim dengan kata travel dalam bahasa Inggris, maka dapat di artikan bahwa pariwisata adalah perjalanan yang dilakukan berkali-kali atau berputar-putar dari satu tempat ke tempat lain (Yoeti 1996:112)
                        Menurut UU No.9 tahun 1990 Bab 1 Pasal 1:
            Wisata adalah kegiatan perjalanan atau sebagian dari kegiatan tersebut yang dilakukan secara sukarela serta bersifat sementara untuk menikmati obyek dan daya tarik wisata. Pariwisata adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan wisata, termasuk pengusahaan objek dan daya tarik wisata serta usaha-usaha yang terkait di bidang tersebut. Kepariwisataan adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan penyelenggaraan pariwisata. Artinya semua kegiatan dan urusan yang ada kaitannya dengan perencanaan, pengaturan, pelaksanaan, pengawasan, pariwisata baik yang dilakukan oleh pemerintah, pihak swasta dan masyarakat disebut Kepariwisataan.[1]
Menurut James J. Spillance
Pariwisata adalah perjalanan dari satu tempat ke tempat lain yang bersifat sementara, dilakukan perorangan atau kelompok sebagai usaha mencari keseimbangan, keserasian dalam dimensi sosial budaya dan ilmu.


Menurut Mc. Intosh dan Goelder
Pariwisata adalah ilmu atau seni dan bisnis yang dapat menarik dan menghimpun pengunjung, termasuk didalamnya bebagai akomoditasi dan catering yang dibutuhkan dan diminati oleh pengunjung.
Menurut Gluckmann
Keseluruhan hubungan antar manusia yang hanya berada sementara waktu dalam suatu tempat dengan manusia yang tinggal di tempat itu
Menurut Oka A Yoeti
Suatu perjalanan yang dilakukan untuk sementara waktu yang diselenggarakan dari suatu tempat ke tempat lain dengan maksud bukan mencari nafkah ditempat yang dikunjunginya tetapi semata-mata untuk menikmati perjalanan tersebut guna bertamasya memenuhi keinginan yang beragam.[2]
B.     Pariwisata dalam Kajian Geografi
Setiap ilmu pasti tidak ada yang dapat berdiri sendiri. Setiap ilmu saling berhubungan satu sama lainnya. Begitupun dengan ilmu pariwisata tidak dapat dilepaskan hubungannya dengan geografi.
Seperti yang dikemukakan oleh Robinson (1976) yang dikutip oleh Maryani (2000:67) pariwisata menjadi bidang kajian geografi, dengan beberapa alasan dibawah ini:
1.      Geografi berhubungan dengan lingkungan baik alam maupun manusia. Ilmu geografi selalu berhubungan dengan lokasi  suatu fenomena, hubungan antara fenomena dan distribusi keruangan. Pariwisata erat kaitannya pada pemanfaatan ruang, lokasi-lokasi daerah tujuan wisata, lokasi dimana wisatawan bergerak dari satu daerah ke daerah lain. Dengan demikian geografi mempunyai peranan yang sangat penting dalam menyediakan ruang sebagai daerah tujuan wisata yang sesuai dengan permintaan wisatawan dan memberikan kepuasan wisatawan yang berbeda karakternya.
2.      Pariwisata erat kaitannya dengan struktur, bentuk, penggunaan lahan dan perlindungan bentang alam (landscape). Di satu sisi pariwisata menyebabkan berubahnya bentang alam menjadi kawasan budaya. Geografi sebagai ilmu tata guna lahan dapat memberikan solusi bagaimana ruang dapat dimanfaatkan sesuai dengan daya dukung dengan meminimalkan resiko kerusakan.
3.      Pariwisata adalah aktivitas ekonomi komersial, berbagai aktivitas ekonomi di permukaan bumi secara khusus dikaji oleh geografi ekonomi. Pariwisata mendorong timbulnya berbagai aktivitas baik yang secara langsung memanfaatkan alam maupun tidak.
4.      Geografi selalu tertarik pada pergerakan barang dan orang, dalam bentuk transportasi dan perdagangan. Pariwisata telah memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap adanya perdagangan secara regional, nasional dan internasional. Distribusi orang, barang, dan uang antara satu tempat ke tempat lain sangat diperlukan untuk mendukung berlangsungnya usaha pariwisata.
5.      Antar hubungan (relationship) dan pengaruh (effect) suatu fenomena terhadap fenomena lain, baik di dalam suatu tempat maupun ke tempat lain selalu menjadi kajian geografi. Pariwisata memberikan dampak yang luas baik secara ekonomi, budaya, sosial, maupun alam. Lingkup dampaknya pun secara lokal, regional, nasional maupun internasional. Hal ini menunjukkan bahwa pariwisata sangat relevan menjadi kajian geografi.[3]

C.    Sumberdaya Geografi untuk Pengembangan Pariwisata
Sumberdaya adalah segala sesuatu yang bernilai apabila diproduksi, diolah dan digunakan. Pengertian bernilai disini sangat subyektif, tergantung pada pandangan individu, kemajuan teknologi dalam masyarakat dan waktu. Sumberdaya geografi untuk pariwisata adalah segala sesuatu baik yang berupa alam maupun hasil budaya manusia yang menarik dan unik bagi wisatawan. Ada beberapa ciri sumberdaya geografi menurut Abdurrahman dan Maryani (1997:77) bagi pariwisata:
1.      Sumberdaya tersebut dapat berupa kenampakan dalam dan budaya yang bernilai ekonomis untuk diolah dalam industri pariwisata.
2.      Sumberdaya yang dipasarkan tidak berdiri sendiri, artinya harus selalu ditunjang oleh pengelolaan, penataan, dan ditunjang fasilitas yang terkait dengan kepariwisataan.
3.      Sumberdaya pada umumnya mempunyai fungsi ganda, jadi tidak hanya sebagai objek wisata yang dapat dilihat saja, tapi harus ada sesuatu yang dapat dikerjakan dan dibeli sebagai oleh-oleh. Ruang untuk kawasan wisata pun berfungsi ganda, seperti kawasan pertanian, perkebunan, perikanan, kehutanan, cagar alam, konservasi dan sebagainya.
Sumberdaya geografi untuk pariwisata menunjukkan adanya keterkaitan satu sama lain, contoh iklim dengan morfologi, morfologi dengan penggunaan lahan dan aktivitas penduduk. Sumberdaya geografis yang dijadikan objek wisata menurut Abdurrahman dan Maryani (1997:77-78) antara lain:
1.      Iklim
Unsur-unsur iklim yang erat kaitannya dengan pariwisata adalah suhu, angin, curah hujan, dan awan (kecerahan). Rekreasi di luar rumah, selain dipengaruhi oleh waktu libur, juga ditentukan oleh iklim. Permintaan rekreasi di luar rumah meningkat tatkala cuaca sedang baik. Kondisi cuaca pun akan menentukan jenis aktivitas yang dilakukan dan perlengkapan yang harus dibawa selama berwisata. Misalnya berwisata di daerah dingin berbeda dengan daerah panas, baik dalam hal jenis pakaian, makanan maupun kegiatan-kegiatan yang dilakukan selama berpariwisata.
2.      Morfologi
Dipermukaan bumi terdapat bermacam-macam bentuk lahan. Tapi pada umunya dapat dibedakan atas pegunungan, perbukitan, dataran tinggi (plato) dan dataran (plan). Morfologi ini akan berkaitan erat dengan cuaca. Di daerah pengunungan banyak dikembangkan objek wisata berupa cagar alam dan taman nasional, dengan segala keanekaragaman flora dan faunanya. Objek wisata lain yang erat kaitannya dengan pegunungan adalah fenomena gunung api, berupa kawah dan sumber air panas.
3.      Tata air
Air permukaan bumi menduduki persentase terbesar. Air ini dapat berupa laut, sungai, danau, dan air dalam tanah. Laut menjadi objek wisata yang menarik sepanjang zaman.
4.      Flora dan Fauna
Flora dan fauna suatu tempat mempunyai kaitan erat dengan iklim baik secara horizontal maupun vertikal. Setiap daerah umumnya mempunyai flora dan fauna khas yang menjadi unggulan daya tarik wisata.[4]
Adapun beberapa sumberdaya yang dapat dijadikan daya tarik bagi wisatawan untuk datang ke suatu daerah tujuan wisata, yaitu:
1.      Sumberdaya yang bersifat alamiah (Natural Amenities) meliputi:
a.       Iklim: cuaca cerah, banyak cahaya matahari, sejuk, kering, panas, hujan dan lain-lain
b.      Bentuk tanah dan pemandangan: tanah yang datar, lembah pegunungan, danau, sungai, pantai, air terjun, gunung berapi dan pemandangan yang menarik.
c.       Hutan belukar
d.      Flora dan fauna, seperti tumbuhan yang aneh, burung-burung, ikan, binatang buas, cagar alam, daerah perburuan dan lain-lain.
e.       Pusat kesehatan, yang termasuk kelompok ini adalah: sumber air mineral, mandi lumpur, sumber air panas.
2.      Sumberdaya buatan manusia (man made supply) seperti:
a.       Monumen bersejarah dan sisa peradaban masa lampau.
b.      Museum, art galery, perpustakaan, kesenian rakyat.
c.       Acara tradisional, pameran, festival, upaca perkawinan, khitanan.
d.      Rumah-rumah beribadah, seperti masjid, gereja, pura, kuil, candi.
3.      Tata cara hidup masyarakat (way of life). Seperti: tarian, sandiwara, drama, upacara-upacara keagamaan. (Oka A. Yoeti, 1996: 172-176).[5]

D.    Dampak Pariwisata
Banyak sekali manfaat yang dapat diberikan oleh pengembangan sektor industri pariwisata. Menurut buku Pegangan Penatar dan Penyuluh Kepariwisataan Indonesia yang diterbitkan oleh Departemen Kebudayaan dan Pariwisata, sedikitnya manfaat dan dampak negatif yang ditimbulkan tersebut dapat ditinjau dari empat aspek:
(a) aspek ekonomi,
(b) aspek social-budaya,
(c) aspek berbangsa dan bernegara, dan
(d) aspek lingkungan.

Di samping manfaat yang diberikan dari perkembangan dan pertumbuhan industri pariwisata, juga perlu diantisipasi dampak-dampak negatif yang mungkin ditimbulkan bila perlu mengurangi atau bahkan dapat menghilangkannya. 
·         Dampak Positif
1.      Aspek Ekonomi
a.       Menambah devisa negara
b.      Membuka kesempatan berusaha
c.       Menambah lapangan kerja
d.      Meningkatkan pendapatan masyarakat dan pemerintah
e.       Mendorong pembangunan daerah
2.      Aspek Sosial Budaya
a.       Pelestarian budaya dan adat
b.      Meningkatkan kecerdasan masyarakat
c.       Meningkatkan kesehatan jasmani dan rohani
d.      Mengurangi konflik sosial mental dengan demikian pengembangan pariwisata merupakan salah satu cara dalam upaya untuk melestarikan lingkungan
e.       Memperoleh nilai tambah atas pemanfaatan dari lingkungan yang ada
3.      Aspek Berbangsa dan Bernegara
a.       Mempererat persatuan dan kesatuan
b.      Menumbuhkan rasa memiliki dan kecintaan terhadap tanah air
c.       Memelihara hubungan baik secara internasional
4.      Aspek Lingkungan
a.       Melestarikan lingkungan
b.      Menumbuhkan suasana hidup tenang dan bersih
c.       Meningkatkan kesegaran fisik dan mental
d.      Jauh dari polusi, santai dapat mengembalikan kesehatan fisik dan mental dengan demikian pengembangan pariwisata merupakan salah satu cara dalam upaya untuk melestarikan lingkungan
e.       Memperoleh nilai tambah atas pemanfaatan dari lingkungan yang ada
·         Dampak Negatif
1.      Aspek ekonomi
a.       Harga barang dan jasa pelayanan menjadi naik, karena banyaknya pengunjung atau wisatawan yang dianggap selalu membawa uang banyak
b.      Harga tanah naik akibat dari banyaknya para investor yang memerlukan tanah untuk pembangunan hotel dan sarana penunjang industri pariwisata
2.      Aspek Sosial Budaya
a.       Penduduk khususnya remaja suka mengikuti pola hidup para wisatawan yang tidak sesuai dengan budaya dan kepribadian bangsa kita sendiri
3.      Aspek Berbangsa dan Bernegara
a.       Banyaknya peluang dan pemanfaatan wisatawan juga mengandung perilaku yang tidak bertanggung jawab misalnya: pemerasan, perjudian, prostitusi, pencurian, peredaran barang-barang terlarang, penipuan dan lain sebagainya
4.      Aspek Lingkungan
a.       Terjadi pengrusakan lingkungan, baik karena pembangunan prasarana dan sarana pariwisata, maupun karena ulah pengunjung atau tangan-tangan jahil orang yang tidak bertanggung jawab[6]


[2]  repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_022933_chapter2.pdf
[3] http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_023313_chapter2.pdf
[4]  http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_0704077_chapter2.pdf
[5]  http://repository.upi.edu/operator/upload/s_geo_023313_chapter2.pdf
[6]  http://smipusi.blogspot.com/2011/01/manfaat-dan-dampak-negatif-industri.html

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar